
Literasi membaca buku karya karangan
siswa dan guru SMAN 14 Semarang
tanggal 11 September 2025
Literasi Membaca Buku Karya Karangan Siswa dan Guru SMAN 14 Semarang
Di era serba digital, tantangan pendidikan bukan hanya soal akses informasi, melainkan juga bagaimana menumbuhkan kembali kecintaan terhadap buku dan budaya menulis. Menyadari hal itu, SMA Negeri 14 Semarang menggelar kegiatan Literasi Membaca Buku Karya Karangan Siswa dan Guru pada 11 September 2025. Kegiatan ini bukan sekadar membaca bersama; melainkan gerakan produktif yang memberi ruang apresiasi bagi karya-karya tulis warga sekolah—baik karya fiksi maupun nonfiksi—serta mendorong transformasi pembaca menjadi penulis.
Kegiatan dilaksanakan di aula sekolah dan dihadiri oleh seluruh siswa, jajaran guru, perwakilan komite sekolah, dan orang tua. Suasana terasa hangat dan penuh antusiasme ketika acara dibuka oleh Kepala SMAN 14 Semarang, Drs. Ahmad Susanto, M.Pd. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa membaca adalah jendela dunia dan menulis adalah cara meninggalkan jejak: kegiatan hari ini menunjukkan bahwa warga sekolah tidak hanya menjadi konsumen literatur, tetapi juga produsen gagasan yang layak dibaca dan dibagikan.
Acara inti menampilkan sesi pembacaan karya dari beberapa siswa dan guru. Beberapa siswa membacakan kutipan dari kumpulan cerpen dan puisi yang sudah mereka terbitkan secara mandiri maupun terkompilasi. Salah satu momen yang mendapat tepuk tangan meriah adalah pembacaan puisi karya Haykal Ibrahim Syachreza dari kelas XI, yang mengambil tema reflektif mengenai pengalaman remaja. Di samping itu, guru-guru juga berpartisipasi: Ibu Siti Nurhaliza, guru Bahasa Indonesia, memperkenalkan kumpulan esai berjudul Membaca Dunia, Menulis Kehidupan yang merangkum pengalaman profesionalnya dalam dunia pendidikan dan refleksi atas peran guru sebagai pembimbing literasi.
Setelah pembacaan, sesi diskusi interaktif berlangsung hangat. Banyak pertanyaan yang muncul dari siswa seputar proses kreatif, teknik menulis, hingga cara mengatasi kebuntuan ide ketika menulis. Seorang siswa bertanya bagaimana menemukan ide yang kuat untuk puisi; penulis muda menjawab bahwa inspirasi dapat datang dari hal sederhana sehari-hari—senja, percakapan, atau pengamatan kecil—dan kunci utamanya adalah kebiasaan menulis konsisten, meskipun hanya sepenggal kalimat setiap hari. Diskusi tersebut menegaskan bahwa menulis adalah keterampilan yang dapat dilatih, bukan sekadar bakat yang menunggu hadirnya inspirasi sempurna.
Kegiatan ini memiliki tujuan jelas: meningkatkan budaya literasi membaca dan menulis, memberi ruang apresiasi bagi karya warga sekolah, mendorong siswa lain untuk berani berkarya dan menerbitkan tulisan, serta memperkuat kolaborasi antara guru dan siswa dalam pengembangan literasi. Manfaatnya sudah terasa; sejumlah siswa yang sebelumnya hanya pembaca kini termotivasi mulai menulis secara rutin, sementara guru semakin aktif membimbing proses kreatif dan publikasi karya siswa.
Walau sukses, panitia mencatat beberapa tantangan yang masih perlu diatasi, antara lain keterbatasan waktu siswa untuk menulis di tengah padatnya jadwal akademik, kurangnya fasilitas dan saluran publikasi yang memadai, serta masih ada siswa yang butuh dorongan untuk percaya diri mempublikasikan karya. Untuk itu, sekolah berencana menjadikan kegiatan ini agenda rutin tahunan dan mengembangkan program pendukung seperti workshop penulisan, klub menulis, serta penerbitan antologi sekolah yang memuat karya terbaik siswa dan guru.
Pelaksanaan Literasi Membaca Buku Karya Karangan Siswa dan Guru pada 11 September 2025 menunjukkan bahwa SMAN 14 Semarang terus berkomitmen membangun ekosistem literasi yang produktif. Selain mendorong kecerdasan intelektual, gerakan ini juga mengasah keterampilan komunikatif, empati, dan kemampuan reflektif peserta didik. Dengan menumbuhkan budaya menulis dan membaca yang konsisten, sekolah berharap mampu melahirkan generasi muda yang berwawasan, berdaya ekspresi, dan mampu menyumbang gagasan bagi kemajuan masyarakat.
Secara ringkas, kegiatan ini bukan hanya merayakan karya yang sudah ada, tetapi menyalakan semangat bagi lebih banyak siswa dan guru untuk menulis dan berbagi. Bila diperkuat secara terstruktur—melalui pembinaan, fasilitas publikasi, dan rutinitas literasi—SMAN 14 Semarang berpotensi menjadi pusat kreativitas tulisan yang memberi manfaat luas bagi dunia pendidikan dan komunitas di sekitarnya.
Penulis:
Yoga Wicaksana, S.Pd.
Tim Humas SMA Negeri 14 Semarang
Editor:
Yuli Agus Setyawan, S.Pd.
Tim Humas SMA Negeri 14 Semarang