Gerakan Peduli Food Loss and Waste
SMAN 14 Semarang

Semarang, 30 September 2025 – Aula SMA Negeri 14 Semarang menjadi saksi sebuah kegiatan penting yang menyoroti isu global sekaligus lokal, yakni persoalan food loss and waste (FLW). Kegiatan bertajuk “Edukasi Sisa Susut Pangan” ini diinisiasi oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang bekerja sama dengan Foodbank of Indonesia (FOI) Semarang serta DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Semarang.
Acara secara resmi dibuka oleh Kepala SMAN 14 Semarang, Aniek Windrayani, S.Pd., M.Pd., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai dampak dari sisa susut pangan. Kehadiran ratusan siswa-siswi, guru, serta perwakilan organisasi kepemudaan menambah khidmat suasana kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 30 September 2025 tersebut.
Dalam sambutan pembukaan, Aniek Windrayani menyampaikan bahwa isu pangan bukan sekadar urusan konsumsi harian, melainkan menyangkut masa depan generasi bangsa. “Kita sering menganggap remeh sisa makanan. Padahal, di balik sebutir nasi yang tersisa, ada petani yang bekerja keras, ada air dan tanah yang digunakan, serta ada energi yang terpakai. Oleh karena itu, saya berharap melalui kegiatan ini, siswa SMAN 14 Semarang dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga ketahanan pangan dan mengurangi pemborosan makanan,” ujarnya.
Beliau juga menekankan peran sekolah sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab sosial dan lingkungan. SMAN 14 Semarang dinilai tepat menjadi tuan rumah kegiatan edukasi ini karena selama ini aktif dalam berbagai gerakan peduli lingkungan, termasuk program eco-school dan pengelolaan kantin sehat.
Acara dilanjutkan dengan paparan dari Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Aniya Widiani, S.Tp., M.P. Dalam presentasinya, beliau menjelaskan secara detail mengenai konsep food loss and waste. Menurutnya, food loss merujuk pada kehilangan pangan yang terjadi sepanjang rantai pasok mulai dari produksi, pascapanen, penyimpanan, hingga distribusi. Sementara food waste adalah sisa makanan yang terbuang di tahap konsumen, baik di rumah tangga, restoran, maupun lembaga penyedia makanan.
“Indonesia termasuk negara dengan jumlah food waste terbesar di dunia. Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya kita membuang jutaan ton makanan yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi. Hal ini bukan hanya masalah etika, tetapi juga berdampak serius pada lingkungan dan ketahanan pangan global,” tegas Aniya Widiani.
Ia menambahkan, pemborosan pangan berarti membuang sumber daya penting yang digunakan untuk menghasilkan makanan, seperti air, lahan, dan energi. Tidak hanya itu, pembuangan makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir juga menyumbang emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.
Perwakilan dari Foodbank of Indonesia (FOI) Semarang juga turut memberikan materi. FOI sebagai lembaga sosial yang fokus pada redistribusi pangan, menjelaskan tentang peran mereka dalam menyalurkan makanan berlebih dari produsen, restoran, maupun rumah tangga kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Masalah pangan di Indonesia bukan semata soal kurangnya produksi, melainkan ketidakmerataan distribusi. Di satu sisi, banyak makanan terbuang, sementara di sisi lain masih ada masyarakat yang kelaparan. Melalui program food rescue dan edukasi seperti ini, kami ingin mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam mengelola makanan,” ungkap salah satu perwakilan FOI Semarang.
DPD KNPI Kota Semarang menekankan bahwa anak muda memiliki peran strategis dalam mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap pangan. Ketua KNPI Kota Semarang dalam sambutannya menyampaikan, “Generasi muda adalah motor penggerak perubahan. Melalui gerakan kecil seperti menghabiskan makanan, membawa wadah makanan sendiri, atau mengedukasi teman sebaya, kontribusi terhadap pengurangan food waste akan sangat signifikan.”
Kegiatan ini tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga menghadirkan sesi diskusi interaktif dan simulasi. Para siswa diberi kesempatan untuk bertanya langsung kepada narasumber mengenai langkah-langkah praktis mengurangi sisa makanan di sekolah maupun rumah.
Salah satu siswa, ketika ditanya mengenai kebiasaannya di kantin sekolah, mengaku sering membeli makanan berlebihan. “Kadang lapar mata, jadi beli banyak, tapi akhirnya tidak habis,” katanya. Narasumber kemudian menjelaskan cara mengatasi kebiasaan tersebut, yakni dengan mengambil porsi secukupnya serta menyimpan makanan yang masih layak untuk dikonsumsi kembali.
Selain itu, panitia juga menampilkan video edukasi yang menggugah kesadaran peserta. Video tersebut menunjukkan dampak besar dari makanan yang terbuang, mulai dari proses produksi hingga pencemaran lingkungan akibat sampah organik.
Dalam penutup materi, narasumber memberikan beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengurangi food loss and waste:
1. Menghabiskan makanan yang diambil atau dibeli. Biasakan mengambil porsi secukupnya sesuai kebutuhan.
2. Menyimpan makanan dengan benar. Gunakan wadah tertutup atau pendingin agar makanan tahan lebih lama.
3. Memanfaatkan sisa makanan. Sisa nasi, sayur, atau lauk bisa diolah kembali menjadi menu baru yang lezat dan sehat.
4. Menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Kurangi pemborosan, gunakan kembali sisa yang masih layak, dan olah sisa organik menjadi kompos.
5. Meningkatkan kesadaran bersama. Edukasi keluarga, teman, dan masyarakat sekitar mengenai pentingnya tidak menyia-nyiakan makanan.
Kegiatan edukasi ini ditutup dengan ajakan bersama untuk menjadikan gerakan anti food loss and waste sebagai bagian dari gaya hidup. Kepala SMAN 14 Semarang menyampaikan apresiasi kepada Dinas Ketahanan Pangan, FOI, dan KNPI atas terselenggaranya acara ini. “Kami berharap setelah pulang dari sini, siswa tidak hanya sekadar paham teori, tetapi benar-benar menerapkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Aniek Windrayani.
Para peserta kemudian menandatangani komitmen simbolis di atas spanduk bertuliskan “Generasi Muda Peduli Pangan, Stop Food Waste!” sebagai tanda kesiapan mereka menjadi agen perubahan.
Kegiatan yang berlangsung setengah hari ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga menggugah kesadaran kolektif bahwa setiap butir makanan yang tersisa membawa konsekuensi besar bagi lingkungan dan masa depan.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan lembaga pendidikan, diharapkan isu food loss and waste dapat ditangani lebih serius. SMAN 14 Semarang melalui kegiatan ini membuktikan bahwa sekolah mampu menjadi pionir dalam membangun budaya peduli pangan sekaligus menginspirasi masyarakat luas.
Penulis:
Yoga Wicaksana, S.Pd.
Tim Humas SMA Negeri 14 Semarang
Editor:
Yuli Agus Setyawan, S.Pd.
Tim Humas SMA Negeri 14 Semarang