Workshop Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam


Workshop Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam

Semarang, 22 Oktober 2025 — Suasana siang di Aula SMA Negeri 14 Semarang terasa berbeda. Para guru dari berbagai mata pelajaran berkumpul dengan semangat tinggi untuk mengikuti Workshop Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam, sebuah kegiatan strategis yang bertujuan memperkuat pemahaman dan praktik asesmen yang berpihak pada proses belajar siswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 22 Oktober 2025, pukul 12.00 hingga 15.15 WIB, dengan menghadirkan narasumber nasional, Bapak Dr. Soedjono, M.Si, fasilitator berpengalaman dalam bidang Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Dengan mengusung tema “Asesmen Bermakna untuk Menumbuhkan Kompetensi dan Karakter”, workshop ini menjadi ruang refleksi dan penguatan kompetensi bagi para pendidik dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara lebih utuh dan kontekstual.

Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala SMA Negeri 14 Semarang, Ibu Dra. Endah Wahyuningsih, M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif para guru. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya perubahan paradigma dari asesmen berbasis hasil menjadi asesmen berbasis proses. “Asesmen bukan hanya mengukur angka, tetapi mengungkap makna dari proses belajar siswa. Melalui pembelajaran mendalam, kita ingin menghadirkan asesmen yang membangun, bukan menghakimi,” tutur Ibu Endah dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan peserta.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan berlanjut dengan paparan utama dari Dr. Soedjono, M.Si, yang membahas secara komprehensif konsep assessment for learning, assessment as learning, dan assessment of learning. Beliau menegaskan bahwa asesmen dalam konteks pembelajaran mendalam bukan sekadar pengumpulan data hasil belajar, melainkan bagian integral dari proses pembentukan kompetensi, karakter, dan kesadaran reflektif siswa.

“Guru harus menjadi perancang pengalaman belajar yang otentik. Dalam konteks itu, asesmen bukan akhir dari pembelajaran, melainkan jembatan yang menghubungkan proses berpikir siswa dengan kompetensi nyata yang mereka capai,” ungkap beliau. Workshop dikemas secara interaktif melalui kombinasi paparan teori, studi kasus, serta praktik penyusunan rubrik penilaian otentik. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk merancang instrumen asesmen yang sesuai dengan karakteristik capaian pembelajaran dan profil pelajar Pancasila.

Dalam sesi praktik, peserta diminta menyusun rubrik penilaian formatif berbasis proyek dan refleksi diri siswa. Suasana diskusi berlangsung dinamis, para guru saling bertukar ide dan pengalaman tentang cara mengukur aspek berpikir kritis, kreativitas, serta kolaborasi dalam kegiatan belajar.Bapak Dr. Soedjono juga memberikan umpan balik langsung terhadap hasil kerja kelompok. Ia menegaskan pentingnya transparansi kriteria penilaian agar siswa memahami indikator keberhasilan belajar mereka.

“Jika siswa tahu apa yang diukur dan bagaimana dinilai, mereka akan belajar dengan lebih bermakna. Itulah esensi pembelajaran mendalam,” ujar beliau menekankan. Menjelang akhir kegiatan, peserta diajak melakukan sesi refleksi bersama. Beberapa guru menyampaikan pengalaman dan pandangan baru setelah mengikuti workshop ini.

Salah satu peserta, Sudarminto, S.Pd., guru Geografi, mengungkapkan kesan positifnya, “Workshop ini membuka cara pandang baru tentang bagaimana asesmen dapat menjadi alat penggerak belajar, bukan sekadar penilaian akhir. Kami menjadi lebih siap merancang instrumen asesmen yang berorientasi pada proses berpikir siswa.”

Selain itu, narasumber juga memberikan panduan sederhana dalam menerapkan asesmen berbasis pembelajaran mendalam di kelas, antara lain:

  • Merancang asesmen berdasarkan tujuan belajar yang jelas dan kontekstual.
  • Menggunakan rubrik deskriptif agar penilaian lebih objektif dan komunikatif.
  • Melibatkan siswa dalam refleksi dan penilaian diri untuk menumbuhkan kesadaran belajar.
  • Mengaitkan hasil asesmen dengan perencanaan pembelajaran berikutnya.

Sesi ditutup dengan rangkuman poin-poin penting oleh panitia dan doa bersama. Kegiatan berjalan lancar dan penuh antusiasme. Para peserta tampak membawa pulang semangat baru untuk memperkuat praktik asesmen yang berfokus pada makna dan nilai kemanusiaan dalam proses belajar. Dalam pernyataan penutupnya, Kepala Sekolah berharap agar hasil kegiatan ini tidak berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata di ruang kelas. “Kita ingin SMA Negeri 14 Semarang menjadi sekolah yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam proses pembelajarannya. Asesmen harus menjadi bagian dari transformasi itu,” ungkap beliau penuh harap.

Workshop ini menjadi bukti nyata bahwa SMA Negeri 14 Semarang terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan kompetensi guru. Dengan dukungan narasumber berpengalaman dan pendekatan kolaboratif, para pendidik mendapatkan inspirasi baru dalam menata ulang strategi asesmen agar lebih relevan, bermakna, dan berorientasi pada pembentukan karakter pelajar Pancasila. Melalui kegiatan seperti ini, semangat pembelajaran mendalam bukan lagi sekadar konsep, tetapi mulai dihidupkan dalam praktik nyata di ruang-ruang kelas SMA Negeri 14 Semarang — menuju pendidikan yang lebih humanis, reflektif, dan transformatif.

Penulis:
Andria Nency, S.Pd.
Tim Bidang Humas SMA Negeri 14 Semarang

Editor:
Yuli Agus Setyawan, S.Pd.
Tim Bidang Humas SMA Negeri 14 Semarang