PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN FISIKA INTERAKTIF

Sabtu, 26 Maret 2011 21:55:21 - oleh : mawar

PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN FISIKA INTERAKTIF


Oleh : Siswanto *



Abstrak
Hasil survei TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciencies Study) menempatkan Indonesia pada posisi ke-34 untuk bidang matematika dan pada posisi ke-36 untuk bidang sains dari 45 negara yang disurvei.  Sementara itu laporan dari UNDP Th.2004,  menyatakan bahwa angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia mencapai 12,1%. Angka ini relatif jauh lebih tinggi, apabila kita bandingkan dengan negera-negara lain, seperti Thailand (7,4%), Brunai Darussalam (6,1%) dan Jepang (0,0%).. Laporan UNDP berdasarkan HDI (Kilas balik pendidikan Nasional :44) mengungkap juga bahwa peringkat mutu pendidikan Indonesia adalah  peringkat 111 dari 177 negara. Posisi itu masih jauh dibawah Filipina (83), Thailand (76), Malaysia (59), Brunai (33), Republik Korea (28), dan Singapura (25). Mutu pendidikan nasional sampai saat ini ternyata semakin memprihatinkan. Hal ini terlihat dari laporan  badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, Educationals, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) 2007 (pakguruonline: groups.yahoo.com) menunjukkan, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 dari 130 negara di dunia. Mutu pendidikan seperti tergambar di atas sangat memprihatinkan dan harus segera diupayakan agar segera berubah menjadi lebih baik. Terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi terpuruknya pendidikan indonasia maka guru harus segera melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki mutu pendidikan. Guru harus berani melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang selama ini dilakukan. Demikian pula dengan guru fisika harus berani melakukan perubahan paradigma baru untuk mewujutkan pembelajaran yang interaktif. Hal in disebabkan selam ini fisika dianggap sebagai salah satu pelajaran yang sulit sehingga banyak menakutkan siswa. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah pemanfataan teknologi komputer untuk mendesain pembelajaran fisika interaktif. Dengan komputer dapat dirancang mutimedia interaktif. Adanya multimedia interaktif dapat mempermudah pemahanan konsep-konsep fisika yang abstrak. Hal ini disebabkan multimedia memiliki kemampuan untuk menampilkan gambaar dan model-model simulasi. Dengan demikian penerapan multimedia interaktif memungkinkan terwujutnya pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Dengan pembelajaran interaktif diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil pembelajaran fisika siswa. Kata kunci: Pembelajaran fisika, interaktif
* Guru Fisika SMAN 14 Semarang




LATAR BELAKANG

Kurang lebih tiga abad yang lalu Faraday melakukan percobaan sederhana yang dikenal induksi elektromagnet. Percobaan Faraday tersebut yaitu menggerakkan batang magnet keluar masuk suatu kumparan. Ketika magnet diletakkan diam di sekitar kumparan tidak ada arus listrik yang timbul pada kumparan. Tetapi ketika2 batang magnet digerakkan masuk atau keluar kumparan maka menghasilkan arus pada kumparan tersebut. Mengapa demikian? Ketika magnet diam di sekitar kumparan maka medan magnet yang menembus kumparan tetap atau konstan. Sementara itu ketika magnet digerakkan masuk atau keluar kumparan maka medan magnet yang menembus kumparan selalu berubah. Adanya perubahan medan magnet yang menembus kumparan menghasilkan arus induksi dan GGL induksi pada kumparan. Kesimpulan percobaan Faraday adalah arus dan ggl induksi pada kumparan timbul hanya jika pada kumparan tersebut terdapat perubahan medan magnet.

Meskipun percobaan induksi elektromagnet Faraday tersebut sederhana namun dampaknya bagi umat manusia sangat luar biasa. Berawal dari percobaan Faraday kemudian orang membuat generator untuk menghasilkan listrik secara besar-besaran. Adanya listrik tersebut berimbas pada perkembangan berbagai bidang industri dan teknologi yang sangat pesat. Demikian pula berdampak pada perubahan pola hidup masyarakat di seluruh dunia menjadi masyarakat modern.

Bercermin dari percobaan Farady tersebut maka guru sebagai ujung tombak pendidikan harus berani melakukan perubahan. Perubahan yang harus dilakukan guru dapat dimulai dari yang sangat sederhana terutama yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran. Mengapa guru harus melakukan perubahan pembelajaran? Hal ini berkaitan dengan masih rendahnya mutu pendidikan nasional terutama pada bidang sains dan matematika. Hasil survei TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciencies Study) menempatkan Indonesia pada posisi ke-34 untuk bidang matematika dan pada posisi ke-36 untuk bidang sains dari 45 negara yang disurvei.


Sementara itu laporan dari UNDP  berdasarkan laporan Human Development Report 2004”,  menyatakan bahwa angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia mencapai 12,1%. Angka ini relatif jauh lebih tinggi, apabila kita bandingkan dengan negera-negara lain, seperti Thailand (7,4%), Brunai Darussalam (6,1%) dan Jepang (0,0%).. Laporan UNDP berdasarkan HDI (Kilas balik pendidikan Nasional :44) mengungkap juga bahwa peringkat mutu pendidikan Indonesia adalah  peringkat 111 dari 177 negara. Posisi itu masih jauh dibawah3 Filipina (83), Thailand (76), Malaysia (59), Brunai (33), Republik Korea (28), dan Singapura (25).

Mutu pendidikan nasional sampai saat ini ternyata semakin memprihatinkan. Hal ini terlihat dari laporan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, Educationals, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) 2007 (pakguruonline: groups.yahoo.com) menunjukkan, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 dari 130 negara di dunia.


Berdasarkan informasi di atas maka memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa mutu pendidikan nasional masih terpuruk dan jauh tertinggal dari negara- negara tetangga. Kenyataan di atas harus disadari oleh semua pihak terutama guru. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan guru meupakan komponen pendidikan yang berada pada garis depan. Guru adalah komponen pendidikan yang berhubungan langsung pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Pentingnya kita berupaya meningkatkan mutu pendidikan nasional dikarenakan pendidikan memegang peran penting bagi kelangsungan suatu bangsa. Mutu pendidikan saat ini akan menentukan keberhasilan dan kelangsungan suatu bangsa pada waktu yang akan datang. Kegagalan pendidikan suatu bangsa berarti malapetaka bagi bangsa itu.

Terlepas dari berbagai faktor dan sistem yang mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan nasional, guru perlu menyadari bahwa rendahnya mutu pendidikan nasional secara langsung atau tidak adalah sebagai dampak juga dari hasil proses pembelajarannya. Oleh sebab itu guru harus segera melakukan evaluasi terhadap pendekatan pembelajaran yang selama ini dilakukan. Guru harus segera melakukan perubahan paradigma dalam melakukan kegiatan pembelajaran lebih inovatif. Hal ini mengingat guru berada pada garis depan pendidikan. Keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran tentunya akan berpengaruh pada mutu pendidikan yang dihasilkannya.


Hal yang masih memprihatinkan adalah kecenderungan sebagian besar guru dalam melakukan proses pembelajaran hanya sebagai suatu rutinitas saja. Akibatnya proses pembelajaran yang dilakukan guru cenderung stagnan, kurang berkembang. Proses pembelajaran kurang banyak melibatkan teknologi dan media sehingga lebih banyak berorientasi pada text book. Proses pembelajaran demikian sangat statis4 sehingga kurang memberikan peran dan kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar. Dengan pembelajaran yang statis menyebabkan minat dan motivasi siswa sangat rendah. Demikian pula dengan inovasi dan kreativitas siswa kurang berkembang. Keadaan demikian berdampak pada rendahnya hasil pembelajaran dan rendahnya mutu pendidikan nasional secara umum.

Berdasarkan  pemahaman di atas maka guru harus melakukan perubahan dalam melakukan proses pembelajaran. Dalam hal ini guru hendaknya tidak melakukan pembelajaran hanya  sekedar rutinitas. Lebih dari itu, guru harus melakukan  inovasi-inovasi yang kreatif agar dapat melakukan perubahan dalam pembelajaran. Inovasi-inovasi pembelajaran tersebut sangat penting agar pembelajaran menjadi dinamis. Proses pembelajaran hendaknya juga memberikan kesempatan yang besar bagi peserta didik untuk dapat melakukan aktivitas belajar secara maksimal. Untuk mewujutkan hal tersebut maka pembelajaran harus di desain interaktif dan menyenangkan agar meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.




PEMBAHASAN:


Pelajaran fisika selama ini masih dianggap sebagai salah satu pelajaran yang sulit bagi siswa. Akibatnya minat belajar siswa pada pelajaran fisika sangat rendah. Rendahnya minat belajar fisika dari siswa berdampak pada hasil belajarnya. Keadaan demikian tidak boleh dibiarkan berlangsung lebih lama lagi. Oleh sebab itu guru fisika perlu melakukan inovasi pembelajarn. Inonasi tersbut sangat penting agar mengasilkan perubahan paradigma baru pembelajartan fisika yang interaktif. Berbagai pendekatan dan media pembelajaran dapat digunakan guru untuk mendesain pembelajaran yang dinamis. Salah satu contoh adalah teknologi komputer. Melalui komputer, guru dapat mendesain multimedia pembelajaran interaktif. Melalui multimedia interaktif, guru dapat menghadirkan gambar, animasi, suara dan simulasi dalam proses pembelajaran. Dengan multimedia interaktif tersebut, guru dapat memberikan kesempatan luas pada siswa untuk melakukan pembelajaran secara interaktif. Dengan demikian pembelajaran menjadi dinamis dan kreatif. Adanya pembelajaran yang interaktif akan mewujudkan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Selanjutnya siswa akan memiliki minat dan5 motivasi belajar yang tinggi. Dengan minat belajar yang tinggi maka dengan kesadaran sendiri siswa akan berusaha mencapai hasil yang maksimal.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses kegiatan interaksi yang melibatkan tiga unsur utama pendidikan , yaitu peserta didik, pendidik dan sumber belajar. Pemahaman ini sesuai dengan pengertian pembelajaran dalam Undang- undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu  lingkungan belajar.

Berdasar pemikiran di atas maka guru sebagai pendidik harus dapat mengelola kegiatan pembelajaran dengan memberikan peran yang aktif pada siswa selaku peserta didik. Hal ini berarti peserta didik harus ditempatkan sebagai subyek pelaku dalam pembelajaran. Peserta didik harus diberi peluang untuk membangun sendiri suatu konsep berdasarkan pengalaman yang ia peroleh. Hal ini sebagai mana digambarkan dalam pembelajaran konstruktif. Demikian pula guru harus dapat mengoptimalkan sumber-sumber belajar  dengan melakukan inovasi pembelajaran interaktif.

Untuk mewujudkan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi efektif maka pengelolaan pembelajaran hendaknya dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa. Menurut Hamalik (2003:156) ada 9 cara yang dapat dilakukan guru untuk dapat memotivasi belajar siswa sehingga terlibat secara aktif dalam pembelajaran, yaitu:



  1. Pembelajaran dilakukan secara bermakma

  2. Pembelajaran dilakukan dengan membuat modeling

  3. Pembelajaran dilakukan dengan menciptakan komunikasi terbuka

  4. Pembelajaran dilakukan dengan mempertimbangkan prasyarat kemampuan siswa.

  5. Pembelajaran dilakukan dengan penyajian baru (Novelty)

  6. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan latihan/praktek yang aktif dan bermanfaat

  7. Pembelajaran dilakukan dengan membuat latihan yang dibagi-bagi dalam kurun waktu yang pendek

  8. Pembelajaran dilakukan dengan mengurangi secara sistematis paksaan belajar

  9. Pembelajaran dilakukan dengan mewujudkan suasanan belajar menyenangkan



Berdasarkan hal itu maka saatnya guru melakukan perubahan dengan inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran tersebut harus menghasilkan proses pembelajaran yang interaktif. Berkaitan dengan hal itu guru perlu memanfaatkan teknologi komputer. Mengapa harus dengan komputer?. Karena komputer mampu menghasilkan program multimedia interaktif. Multimedia interaktif memungkinkan menghadirkan pembelajaran interaktif. Program multimedia tidak hanya menghadirkan teks tetapi juga menampilkan gambar /visual, suara, animasi dan simulasi. Dngan adanya gabungan media akan memberikan kekuatan belajar siswa. Hal ini sesuai penelitian Francis M. Dwyer sebagaimana diungkap dalam buku panduan pengembangan multimedia pembelajaran (Depdiknas, 2007:3), menyebutkan bahwa setelah lebih dari tiga hari pada umumnya  manusia dapat mengingat pesan yang disampaikan dengan tulisan 10 %, pesan Audio 10 %, visual 30 %, audio visual 50%, dan apabila ditambah dengan melakukan maka mencapai 80%.

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Pendidikan" Lainnya

Kalender Siswa

« Nov 2019 »
M S S R K J S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
1 2 3 4 5 6 7

Pesan Singkat

Berita Terakhir

Polling

Bagaimana Menurutmu Website Ini